Pers Mahasiswa “Aset Yang Terkubur”

Pers Mahasiswa “Aset Yang Terkubur”
Mariam Sesa

Salah satu bidang yang paling dominan dalam mempengaruhi perkembangan era globalisasi adalah bidang informasi dan komunikasi (Kenichi Ohhmae).
Era globalisasi yang semakin semarak, yang ditandai dengan semakin kaburnya batas-batas antar Negara walaupun secara factual batas-batas tersebut masih ada. Bidang yang paling gencar melakukan terobosan-terobosan menuju era globalisasi adalah bidang informasi dan komunikasi. Maka tidak heran apabila saat ini banyak menjamur berbagai media massa baik cetak maupun elektronik.
Berbicara masalah media informasi dan komunikasi, tentunya sebagai seorang mahasiswa kita tidak terlepas dari apa yang disebut dengan Pers kampus atau Pers mahasiswa. Pers Mahasiswa, apapun bentuk dan jenis medianya, tentunya hadir denganm muatan nilai ideologis tertentu. Kata pers barangkali bukan menu asing lagi bagi anak-anak komunikasi. Tapi, bagi saya pribadi pers adalah sebuah sungguhan yang aneh bagi lidah saya yang nota bene seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi yang tiap hari disuapin dengan bahasa dan istilah-istilah ekonomi.
Dua tahun yang lalu, saya mulai belajar untuk mengenal menu hidangan dengan sebutan pers. Sebagai seorang mahasiswa jurusan ekonomi tentunya ini memberikan tantangan tersendiri bagi saya, setelah dua tahun saya mencoba untuk belajar mengunyah makanan yang bertajuk pers, setidaknya telah mendorong naluri saya untuk lebih dalam menggeluti bidang jurnalistik ini.
Dunia pers memang dunia yang syarat dengan tantangan, dimana kita dituntut mampu untuk menuangkan ide dan gagasan kita secara tekstual dan sistematis. Sebenarnya banyak manfaat yang bisa kita peroleh dengan menggeluti dunia pers ini, bagi seorang mahasiswa, aktivitas pers ini dapat melatih mahasiswa untuk mampu menulis, dapat berfikir secara sistematis, meningkatkan kemampuan daya analisa mahasiswa agar mampu memberikan ide-ide kretif solutif atas segala permasalahan yang ada.

Sayangnya, kesempatan seperti ini banyak yang tidak menyadarinya, sehingga yang ada ketika pembuat karya ilmiah (Skripsi, Makalah, Tugas Akhir)banyak yang hanya menjiplak dari para seniornya terdahulu atau yang lebih parah lagi apabila mereka hanya harus mengeluarkan jutaan rupiah untuk membeli karya ilmiah buatan salah satu dosennya.
Manfaat lain bagi seorang dosen, dunia jurnalistik dapat membantu dosen/pengajar untuk menyebarkan ide-ide atau gagasannya tentang berbagai hal, banyak dosen yang hanya menjadi distributor kurikulum saja atau ada yang hanya menjadi beo dari hasil karya orang lain- kalau yang ini anak SD juga bisa, asalkan tau baca tulis- selain itu media pers ini juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana barter pengalaman dan informasi antara dosen dengan mahasiswa tentang pelbagai persoalan.
Soe Hoek Gie seorang tokoh pemuda yang gemar menulis yang masih hangat diperbicarakan dalam tiap-tiap diskusi diberbagai kalangan intelektual. Banyak tokoh yang lahir dan besar lewat karya-karyanya dalam bentuk tulisan yang menjadi bukti sejarah peradaban manusia. Sangat disayangkan sekali jika asset berharga ini terlupakan dan dibiarkan terkubur dalam kegelimangan dan pole hedonisme dunia modern yang syarat dengan kepentingan-kepentingan pragmatis demi kepuasan dan predikat social semata.
Dengan tulisan ini saya ingin menyampaikan salut pada rekan-rekan pers mahasiswa yang dengan kretif mencoba untuk menghangatkan kembali kiprah pers mahasiswa, semoga apa yang kalian kerjakan selalu menjadi rahmat bagi semesta alam. Bravo pers mahasiswa[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar